Center of Testing Machine in Indonesia

Pertemuan teknis akbar laboratorium dan lembaga inspeksi telah berlangsung pada tanggal 15 Maret 2018 di Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan oleh BSN/KAN dihadiri kurang lebih 700 peserta dari laboratorium pengujian, kalibrasi, biomedis dan lembaga inspeksi yang telah terakreditasi KAN (Komite Akreditasi Nasional). Pokok pembahasan dari pertemuan teknis adalah penjelasan mengenai perubahan standar SNI ISO/IEC 17025:2008 menjadi SNI ISO/IEC 17025:2017.

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya M.Sc. membuka acara dengan menyampaikan pandangan bahwa pentingnya untuk menjaga pengelolaan mutu di Indonesia melalui standardisasi yang harus selalu update terhadap perkembangan industri dan tuntutan konsumen sekarang. Seperti yang terjadi terhadap standar SNI ISO 17025:2008 “Persyaratan umum kompetensi laboratorium oengujian dan laboratorium kalibrasi” yang telah mengalami perubahan menjadi SNI ISO/IEC 17025:2017. Perubahan standar lebih mengacu terhadap pemenuhan ISO 9001:2015 yang mengutamakan peningkatan kinerja dan pelayanan mutu.
 
Selanjutnya Sekretaris Jenderal Komite Akreditasi Nasional (KAN) Drs Kukuh S. Achmad M.Sc, menjelaskan bahwa proses standardisasi dan penilaian kesesuaian yang diatur dalam UU No. 20 tahun 2014 tidak terlepas dari 3 siklus pengelolaan mutu yaitu dimulai dari penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI), implementasi SNI dan standar internasional yang berlaku dan pembuktian penerapan standar-satandar tersebut apakah telah sesuai atau tidak melalui asesmen dan akreditasi. Adapun lingkup yang menjadi obyek pembahasan standar adalah barang, jasa, sistim, proses dan manusia. Berdasarkan undang-undang tersebut BSN adalah perpanjangan tangan Pemerintah dalam penyusunan standar dan KAN adalah penanggung jawab akreditasi laboratorium dan lembaga inspeksi.
 
Foto bersama peserta pertemuan teknis laboratorium dan lembaga inspeksi, Yogyakarta 15 Maret 2018

Sehubungan penerapan ISO/IEC 17025:2017 sudah menjadi persyaratan internasional, maka KAN yang terakreditasi oleh Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC) dan International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC) melalui Mutual Recognition Arrangement (MRA) harus memastikan seluruh laboratorium baik itu internal milik produsen, laboratorium pengujian independen, maupun laboratorium kalibrasi telah menyesuaikan dengan ISO/IEC 17025:2017. Walau diberi batasan waktu sampai 30 November 2020, KAN ingin semua laboratorium sudah siap untuk menerapkan standar yang baru ini dengan menyerahkan formulir pernyataan kesesuaian terhadap ISO/IEC 17025:2017 paling lambat 31 Maret 2018. Komitmen bersama semua laboratorium sangat diperlukan agar KAN atau Indonesia tetap berhasil mempertahankan pengakuan akreditasi internasional dalam menjaga mutu akreditasi laboratorium.

Teknis atau tata cara dalam melakukan perubahan sistim dokumen mutu dari standar yang lama menjadi sesuai dengan standar yang baru dijelaskan secara ringkas oleh Plt  Kepala Pusat Akreditasi Laboratorium dan Lembaga Inspeksi dan Direktur Akreditasi Laboratorium dan Lembaga Inspeksi, Donny Purnomo, ST.  Sedangkan penjelasan mengenai manajemen akreditasi meliputi uji profisiensi, jadwal surveilen dan reakreditasi laboratorium pengujian dan kalibrasi disampaikan oleh Fajarina Budiantari dan Herlin Rosdiana. Pemaparan teknis penyesuaiaan standar baru dan manajemen akreditasi tersebut diselingi dengan sesi tanya jawab. Walau beberapa pertanyaan belum terjawab dengan lengkap, BSN/KAN memberikan kesempatan untuk melayangkan pertanyaan secara offline ke kantor pusat langsung di Jakarta.

Hasil pertemuan teknis 15 Maret 2018 yang juga dihadiri oleh Laboratorium Kalibrasi Gaya PT Ostenco Promitra Jaya dengan nomor akreditasi LK-247-IDN, telah menambah wawasan terhadap seluruh peserta bahwa keberadaan laboratorium yang terakreditasi KAN tersebar di seluruh Indonesia adalah tulang punggung untuk terpenuhinya standar mutu produk-produk Indonesia agar bisa lebih bersaing di perdagangan internasional. Walau mungkin masih banyak yang belum terakreditasi KAN, karena tuntutan global, produk wajib SNI dan meningkatnya kesadaran mutu masyarakat industri maka laboratorium tidak dapat mengindari lagi dan lambat laun akan mengajukan permohonan akreditasi KAN.(*)